Sabtu, 16 Februari 2013

Ronggowarsito, Islam dan Kejawen

Islam bercorak mistik dianggap sebagai ciri khas Islam di Nusantara. Keberhasilan Islam menebarkan ajaran yang damai dan mudah diterima bersebab ia menyerap pelbagai anasir mistisisme setempat yang sudah lebih dulu ada, di samping mempertahankan watak asalinya. Karya-karya sastra klasik di Nusantara, bahkan yang lebih kemudian—seperti yang ditulis Hamzah Fansuri, Ronggowarsito, dan Hasan Mustapa—menampilkan bagaimana mistisisme Islam bersenyawa dengan lokalitas, dan kitab-kitab tersebut hingga kini masih menjadi acuan para penempuh jalan mistik atau kaum kebatinan.
Hamzah Fansuri adalah seorang ulama sufi dan sastrawan yang hidup di abad ke-16 dan ke-17 di Kesultanan Aceh. Karya-karyanya, antara lain Syair Perahu, dikenal berpaham wahdatul wujud (panteisme). Ajaran tasawufnya sangat dipengaruhi, antara lain, oleh pemikiran Ibnu Arabi dan Al-Hallaj. Sementara Ronggowarsito adalah pujangga besar Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta pada abad ke-19. Ia menulis sejumlah kitab tasawuf, seperti Serat Kalatida dan Wirid Hidayat Jati. Adapun Hasan Mustapa adalah ulama dan pujangga besar Sunda. Karyanya yang terkenal adalah 10.000 bait dangding yang membahas Suluk, terutama tentang hubungan antara hamba (kawula) dengan Tuhan (Gusti), yang dianggap berpaham wahdatul wujud.
Kuliah ini akan menampilkan pembicara Abdul Hadi W.M., penyair dan pengajar di Program Studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, Jakarta, Herman Sinung Janutama, penelaah manuskrip Jawa, dan Hawe Setiawan, penelaah sastra Sunda dan pengajar di Universitas Pasundan, Bandung.

Bayang-bayang Daun

Ada pagi berkicau di hamparan ranau
Embun, mentari, dan burung-burung menguapkan sisa kantuk
lalu petani tua yang telah sebatang kara menyeka sisa usia
menetes keringat yang tak jarang ia keluhkan.

Burung menari-nari di dahan padi
itu bukan burung-burung yang dulu ia kenal
awan tipis melintas begitu saja
itu awan-awan dengan nyawa yang baru

Senja yang dinanti tak seindah bayangan
daun tua tiada tunas
tinggallah ia sendiri
menanti jatuh ke bumi
tiada terkenang